February 26, 2017 sulaiman 0Comment

Gagal Faham System

Banyak penjual makanan yang menjalankan usahanya bahkan sudah bertahun-tahun dan merasa bahwa mereka sudah menjalankan usaha tersebut dengan benar. Setiap hari meraka datang dan memulai usahanya lalu pulang malam hari dan itu dilakukan terus menerus bertahun-tahun. Ia merasa sudah menjalankan usahanya, dan usahanya baik-baik saja dan menjadikan itu sebagai yang ia sebut dengan bisnis, bahkan akan mengatakan dirinya sebagai BUSINESS OWNER.

Suatu hari ia tidak bisa datang ke restorannya, dan ia mendapatkan bahwa pekerjaan di restoran banyak yang tidak sesuai dengan harapan, banyak pekerjaan yang terlewatkan, operasional berjalan tidak seperti saat ia berada di restoran. Hal ini menunjukan bahwa ternyata sebenarnya, karyawan bekerja dan melakukan tugasnya based on command bukan based on system. Karyawan menjalankan tugasnya kalau ada perintah atasan atau pemilik bisnis. Tidak jarang jika ada manager di restoran dengan gaya seperti ini, ia akan terlihat invalid, dan tidak ada bedanya dengan karyawan lainya karena kekuasaan dan bisnis proses datang dari mulut bukan dari command of system.

Dampak dari hal ini kemudian adalah pemilik bisnis akan terkungkung, terikat untuk tidak bisa meninggalkan restorannya, sehingga restoran hanya akan berjalan jika ada yang punya, karyawan hanya akan bekerja jika ada pemilik yang memperhatikan, jika demikian pula, kemudian restoran akan tergantung kepada pemiliknya, bukan kepada system.

Tidak jarang pula, restoran dengan gaya seperti ini, akan berhenti beroperasi jika ia ditinggalkan oleh tukang masaknya, karena restoran berjalan kalau ada chef, bukan based on system.

Perhatikan ini. Pemilik KFC saat ini, pemilik atau CEO starbuck, MC Donnald, J-CO, mereka sudah tidak pernah dan tidak perlu datang lagi ke outlet. Karyawannya akan tetap bekerja sesuai dengan instruksi dan perintah yang tertuang dalam system.

Terlalu Menjadi Boss atau Boss Keterlaluan

Banyak pemilik bisnis apalagi kalau sudah – terlihat – besar , ia hanya akan melihat restoran dan orang-orang didalamnya – karyawan – hanya sebagai sumber penghasilan dan mesin pencetak uang. Tidak sedikit pula pebisnis dengan gaya seperti itu akan menjadi super boss yang absolut, dan titahnya adalah mutlak.

Kemudian akan lupa esensi bisnis yang sebenarnya bahwa bisnis idealnya memberikan manfaat kepada orang banyak, bahwa bisnis itu akan berjalan dengan orang-orang hebat – karyawan – dengan system yang hebat, bukan dengan power of owner. Tidak sedikit pengusaha yang lupa dengan esensi ini, yang kemudian harus menuai bencana saat ia ditinggalkan semua karyawannya. Bisnis adalah sebuah bentuk synergy dari manusia yang saling mendukung dan memberikan daya serta energy masing-masing dengan satu tujuan.

Bos yang sebenarnya adalah justru yang benar-benar menghargai setiap tenaga dan keringat bersama yang mengucur pada saat bekerja melayani setiap tamu yang datang. Bos yang sebenarnya adalah mereka yang bisa menjadi teman, atasan sekaligus sahabat yang bisa memberikan solusi yang tepat saat karyawan mempunyai tantangan yang harus diselesaikan. Bos yang sebenarnya adalah orang yang pandai mengakomodir setiap permasalah dan keadaan direstorannya dengan demikian setiap orang akan menjadi senang bahkan bangga ketika mengatakan dimana ia bekerja. Bos yang sebenarnya adalah mereka yang mengerti detail pekerjaan dan memberikan contoh terbaik kepada karyawannya. Meraka akan membangun diri setiap orang dalam organisasinya agar restoran bisa berjalan dengan baik bahkan ketika sang bos tidak ada.

Menjadikan Karyawan Hanya Sebagai Mesin Uang, Bukan Mitra

Masih identik dengan cara pemilik bisnis atau restoran yang bossy. Banyak prilaku atau tindakan terhadap karyawan yang kurang berkenan dan karyawan hanya dianggap sebagai mesin uang. Hal akan mengakibatkan restoran tidak akan bisa berjalan lancar. Ada sesuatu yang tidak terlihat namun sangat berdampak terhadap hasil sebuah restoran. Ada hal kasat mata yang menjadikan aura atau energy yang terpancar di restoran tersebut nampak suram. Jika pun karyawan bisa bertahan dan telihat apik dari luar, “koq karyawan pada betah ya”, namun jika dilihat kedalam, ibarat bom waktu, tinggal tunggu waktu saja dan lihat lah lebih detail, periksa apakah ada kebocoran dalam hal pembelanjaan atau inventory barang? Tinggal tunggu waktu dan lakukan “deep inspection”, dalam perusahaan atau restoran sepert ini, akan rawan sekali pencurian yang sangat rapi dan on collaboration. Maka, berhati-hati jika anda dalam kondisi ini, sebaiknya segera merubah gaya bisnis restoran anda. Jangan perlakukan karyawan hanya sebagai mesin pencetak uang, perlakukan mereka sebagai mitra kerja, perlakukan mereka sebagai mitra bisnis, yang jelas sekali jika mereka keluar, tentu restoran tidak akan bisa beroperasi. Karyawan adalah asset perusahaan yang perlu penanganan secara seksama, sistematis dan terencana. Fikirkan hal ini, jika anda fokus dengan uang saja, selamat anda hanya sedang menjalankan bisnis, tapi ketika anda fokus dengan system dan membangun manusia, anda sedang membangun kerajaan bisnis.

Tidak Respect Terhadap Supplier

Apa yang anda fikirkan tentang supplier?

Saya punya banyak pengalaman tentang supplier yang berhubungan langsung dengan saya pada saat itu, apakah ketika saya bekerja dahulu ketika sudah memiliki restoran. Pada waktu itu, supplier di tempat saya bekerja mengeluh, mengadu dan minta bantuan saya untuk menyelesaikan permasalahan dengan perusahaan dimana saya bekerja saat itu. Hutang perusahaan sudah terlalu banyak menumpuk, dan jika pun perusahaan melakukan pembayaran, sungguh sangat dibawah harapan si supplier tersebut. “Untung saja” katanya restoran lain sudah melakukan pelunasan atas tagihannya.

Pengalaman ketika saya sudah memulai berbisnis dan berhubungan dengan supplier, saya mempunyai mamajemen supplier yang berusaha lebih baik, bahkan mitra saya bilang, kenapa harus menunda pembayaranan? 1 minggu, 2 minggu atau lebih, padahal sudah jelas; pertama, dari sisi harga, jika membayar dengan tempo maka harga pun akan lebih mahal dibanding dengan cash on delivery, kedua, tagihan itu pasti harus dibayar, lalu kalau uang pendapatan hanya disimpan hanya untuk waktu dua minggu, tentu tidak akan bisa menjadi sebuah investasi yang menghasilkan return, setidaknya itu pemikiran kamu saat itu, namun ternyata effect-nya luar biasa. Supplier sangat antusias dan loyal tentu saja. Barang yang dipesan selalu yang terbaik, dan hubungan menjadi semakin mutual.

So, semua punya manajemen sendiri, jadi tinggal memilih mau gaya seperti apa, itu akan menghasilkan effect lain sebagai sebuah kompensasi.

Tidak Mau Belajar – Sudah Merasa Pintar

Saya sering bertemu dengan banyak pebisnis restoran, baik ketika seminar atau workshop atau event-event lain atau bahkan dengan franchisee saya. Tidak sedikit mereka yang sudah merasa tahu dan pintar hanya karena mereka juga pebisnis dalam bidang lain; ada pemilik toko pakaian, ada agen asuransi, ada pemilik sebuah pabrik dan lain-lain. Saya setuju mereka semua mau berinvestasi untuk usaha restoran dan saya setuju mereka akan melakukan yang terbaik menurut dirinya. Namun, halloo, saya sangat ingin pada waktu itu, saat sedang bersama mereka, mereka belajar dan tidak menyamakan bisnis restoran dengan bisnis lain, meskipun secara umum atau dalam hal tertentu ada kesamaan antara bisnis retoran dengan bisnis lain yaitu sama-sama harus menghasilkan, sama-sama punya supplier, sama-sama ada penangan keuangan, karyawan dan lain sebagainya. Tapi dunia restoran itu adalah sesuatu yang unik, – menurut saya – karena berhubungan dengan kenikmatan, kenyamanan, keramah tamahan, selera, orang lapar, dan seterusnya, hal ini perlu penanganan khusus. Di restoran beda dengan di pabrik yang memiliki ratusan atau bahkan ribuan karyawan yang jika tidak masuk 5-10 orang, pabrik tidak akan terlalu berpengaruh signifikan, karena pabrik masih akan bisa terus berjalan dengan produksi. Di restoran, jika 2 orang tidak masuk, itu akan berpengaruh signifikan.

Di restoran, penanganan bahan baku sangat krusial karena berhubungan dengan makanan yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan waste, yang berujung dengan lost profit. Di restoran, semua orang harus ramah dan tersenyum dimanapun ia berdiri atau duduk apalagi berhadapan dengan tamu, untuk itu perlu manajemen bagaimana bisa maintenance mood agar senyum ramah tetap terpancar. Direstoran itu kata siapa bekerja nya enak, dan santai?

Saya pernah bekerja di luar negeri, dimana, pekerjaan di restoran tersebut sungguh sangat memerlukan energy yang luar biasa. Fikirkan hal ini, saya harus melayani makan siang atau saat dinner, ribuan orang tentu memerlukan kecepatan yang luar biasa karena semua harus terlayani dengan baik dan cepat, mengingat para tamu sudah membayar sangat mahal untuk bisa bersantap di restoran fine – fine dining – tempat saya bekerja saat itu, sehingga akurasi, kualitas makanan, speed, dan tetap – ini yang membedakan dengan industri lain – harus TERSENYUM . Ini adalah sebuah kombinasi unik, pada saat bekerja keras dan mengeluarkan energy super, kita harus tetap tersenyum dan dengan ramah. Dunia itu hanya ditemukan di restoran.

Belajar seluk beluk restoran, mengetahui bermacam-macam konsep restoran, cara penyajian, ragam menu makanan dan minuman, resources yang support bisnis restoran anda, bagaimana menangani manusia, bagaimana menciptakan system dalam restoran anda, pengelolaan keuangan dan aspek-aspek lain, memerlukan perhatian seksama dan jika anda komit dengan bisnis restoran anda, BELAJAR adalah langkah bijak untuk segera dilakukan terus menerus tiada henti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *