September 17, 2017 sulaiman 0Comment

Asuransi jiwa di Indonesia kini mulai berkembang. Hal ini dibuktikan oleh naiknya angka pertumbuhan di industri asuransi jiwa pada kuartal pertama 2017 yang disampaikan oleh pihak Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia. Salah satu yang membuat asuransi jiwa kini lebih diminati oleh masyarakat Indonesia adalah adanya asuransi jiwa syariah. Ya, di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini tentu industri dalam koridor syariah begitu memikat. Pasalnya, banyak orang yang lebih ingin memilih produk keuangan dan asuransi syariah agar lebih pas dengan kebutuhan mereka. Di Indonesia, sudah ada dewan khusus yang menjaga jalannya produk-produk syariah yaitu Dewan Syariah Nasional atau DSN. Begitu pula untuk asuransi jiwa syariah yang juga berada dibawah pengontrolan DSN. Lantas apa bedanya produk asuransi jiwa syariah dengan asuransi jiwa biasa?

Terdapat beberapa perbedaan prinsip asuransi pada asuransi jiwa syariah. Produk asuransi untuk orang yang beragama Islam ini memang menggabungkan antara tatanan asuransi biasa dengan aturan-aturan yang baik secara agama. Prinsip yang diusung asuransi jiwa syariah bukan risk trasnfer, melainkan risk sharing. Hal ini secara jelas menyebutkan bahwa asuransi jiwa syariah adalah bentuk dari saling tolong menolong sesama nasabah asuransi jiwa syariah. Klaim yang dilakukan oleh nasabah pun dibayarkan menggunakan dana tabarru atau dana sosial, bukan dari dana perusahaan asuransi. Hal ini jelas membedakan bahwa posisi perusahaan asuransi jiwa syariah hanya pengelola dana umat saja, dengan adanya bagian pendapatan khusus untuk jasa pengelolaan asuransi jiwa syariah. Dengan begitu, dana yang didapatkan dari nasabah asuransi jiwa syariah tidak bisa digunakan sesuka hati oleh perusahaan dan tidak bisa juga diinvestasikan sembarangan. Dana yang terkumpul hanya bisa diinvestasikan untuk produk syariah dan hasilnya akan dibagi kepada seluruh nasabah. Dari penjelasan perbedaan prinsip tadi sudah diketahui jelas adanya perbedaan mendasar antara asuransi jiwa syariah dan asuransi jiwa biasa.

Soal mekanisme asuransi jiwa syariah pun berbeda. Dengan prinsip tidak boleh ada yang merugi seperti yang telah dijelaskan tadi, seorang nasabah asuransi jiwa syariah harus pahal betul mekanisme dan perjanjian asuransi jiwa syariah. Seorang nasabah harus mengikhlaskan dana tabarru atau dana sosial kepada pihak pengelola asuransi jiwa syariah. Dana tersebut bersifat donasi yang artinya ketika ada nasabah lain yang mengalami musibah maka uang kumpulan dana tabarru tadi harus diikhlaskan untuk dipakai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *